Siapakah Saksi Yehuwa itu?
Saksi-Saksi Yehuwa adalah suatu denominasi Kristen, milenarian (cenderung pada ajaran Kerajaan 1000 Tahun Damai), restorasionis (pemulihan) yang dahulu bernama Siswa-Siswa Alkitab hingga pada tahun 1931. Agama ini diorganisasi secara internasional, lebih dikenal di dunia Barat sebagai Jehovah's Witnesses, yang mencoba mewujudkan pemulihan dari gerakan Kekristenan abad pertama yang dilakukan oleh para pengikut Yesus Kristus. Saksi-Saksi Yehuwa sendiri bukanlah suatu sekte, mereka tidak pernah memisahkan diri dari gereja atau kelompok besar manapun. Wewenang tertinggi kehidupan mereka berdasarkan hukum-hukum dan prinsip-prinsip dari Kitab Suci atau Alkitab[1].
Secara resmi pengajaran Saksi-Saksi Yehuwa di Indonesia dilarang melalui Surat Keputusan Jaksa Agung Nomor 129 Tahun 1976, lewat SK itu, Jaksa Agung telah melarang kegiatan Saksi Yehuwa atau Siswa Alkitab di seluruh wilayah Indonesia. Sebab, Saksi Yehuwa memuat hal-hal yang bertentangan dengan ketentuan hukum yang berlaku, seperti menolak salut bendera dan menolak ikut berpolitik. Ajaran yang mereka yakini juga dianggap bertentangan dan menyimpang dari kebijaksanaan dan politik pemerintah RI dan dianggap meresahkan karena perilaku penyebaran agama.
Pengikut yang cukup rajin mendatangi orang-orang dari rumah ke rumah, hal ini telah menimbulkan keresahan di kalangan umat beragama umumnya karena praktek kunjungan-kunjungan ini dilakukan ke rumah-rumah masyarakat yang sudah beragama. Mereka juga melakukan antitesa terhadap beberapa aspek pemerintahan. Pada Februari 1994 ada upaya untuk mencabut SK ini dengan berlandaskan Pasal 29 UUD 1945, Tap MPR Nomor XVII/1998 tentang HAM, dan Instruksi Presiden No. 26 Tahun 1998. Pada 1 Juni 2001 SK ini kemudian dicabut. Walaupun begitu, sebenarnya sejak tanggal 19 Juli 1996, Saksi-Saksi Yehuwa telah membuka kantor cabang Indonesia berupa gedung yang dipergunakan sebagai tempat pertemuan dan pusat kegiatan[2].
Pengikut yang cukup rajin mendatangi orang-orang dari rumah ke rumah, hal ini telah menimbulkan keresahan di kalangan umat beragama umumnya karena praktek kunjungan-kunjungan ini dilakukan ke rumah-rumah masyarakat yang sudah beragama. Mereka juga melakukan antitesa terhadap beberapa aspek pemerintahan. Pada Februari 1994 ada upaya untuk mencabut SK ini dengan berlandaskan Pasal 29 UUD 1945, Tap MPR Nomor XVII/1998 tentang HAM, dan Instruksi Presiden No. 26 Tahun 1998. Pada 1 Juni 2001 SK ini kemudian dicabut. Walaupun begitu, sebenarnya sejak tanggal 19 Juli 1996, Saksi-Saksi Yehuwa telah membuka kantor cabang Indonesia berupa gedung yang dipergunakan sebagai tempat pertemuan dan pusat kegiatan[2].
Para Pendiri Saksi Yehuwa
Charles Taze Russell
Lahir Tgl 16 Februari 1852 dan wafat Tgl 31 Oktober 1916. Dikenal sebagai orang Kristen Restorasi terkemuka di awal Abad XX yang memulai pelayanannya di Pittsburgh, Pennsylvania Amerika dan pendiri dari apa yang sekarang disebut Gerakan Siswa Alkitab darimana Saksi Yehuwa dan sejumlah kelompok Siswa Alkitab bermunculan setelah kematiannya.
Dimulai pada bulan Juli tahun 1879 ketika dia mulai menerbitkan jurnal keagamaan bulanan dengan nama Zion's Watch Tower and Herald of Christ's Presence (Menara Pengawal Sion dan Kehadiran Bentara Kristus). Jurnal ini sekarang berubah nama The Watchtower Announcing Jehovah's Kingdom (Deklarasi Menara Pengawal dari Kerajaan Yehuwa) dan diterbitkan setengah bulan sekali. Pada tahun 1881 dia menjadi asisten pendiri Zion's Watch Tower Tract Society (Risalah Masyarakat Menara Pengawal Sion) dan pada tahun 1884 badan hukum organisasi tersebut secara resmi didaftarkan ulang kembali dimana Russel terpilih sebagai direktur. Russel banyak menuliskan artikel, buku, brosur, pamflet dan kotbah yang keseluruhannya diperkirakan ada 50.000 cetakan. Dari tahun 1886 sampai 1904 Russel menerbitkan enam volume pelajaran Kitab Suci berseri yang semula dinamakan Millennial Dawn(Permulaan Milenium) yang kemudian diberi nama baru Studies in the Scriptures(Pelajaran-pelajaran dalam Kitab Suci) yang menghabiskan hampir 20 juta copi yang telah dicetak dan disebarluaskan ke seluruh penjuru dunia dalam berbagai bahasa selama hidupnya (Volume ketujuh telah dituliskan dan diterbitkan oleh Joseph Rutherford pada tahun 1917). Masyarakat Menara Pengawal (The Watch Tower Society) menyatakan secara resmi bahwa penerbitan tulisan-tulisan Russel berhenti pada tahun 1927 meskipun buku-bukunya berlanjut diterbitkan oleh beberapa kelompok independen semenjak tahun itu.
Russel adalah figur kharismatik (seorang yang memiliki karisma) namun mengklaim tidak memiliki pewahyuan khusus atau penglihatan bagi pengajarannya dan tidak memiliki otoritas khusus atas apa yang dimilikinya. Dia menyatakan bahwa dia tidak hendak mendirikan denominasi baru namun sebaliknya hany berniat mengumpulkan bersama-sama diantara mereka yang mencari kebenaran Firman Tuhan “selama masa penuaian”. Dia menuliskan bahwa “kebenaran nyata yang dibentangkan” dalam ajarannya berkaitan dengan “fakta sederhana bahwa waktu Tuhan telah datang dan jika saya tidak berbicara dan tidak ada perantara lain ditemukan maka batu-batu itu akan berteriak”. Dia melihat dirinya sendiri – dan semua orang-orang Kristen diurapi oleh Roh Kudus- sebagai “penyambung lidah Tuhan” (God's mouthpiece) dan sebagai Duta Mesias. Dalam karirnya di kemudian hari dia menerima tanpa sangkalan bahwa banyak Siswa Alkitab memandang dirinya sebagai “pelayan yang setia dan bijaksana” sebagaimana dikatakan dalam Matius 24:25 dan dia digambarkan oleh Menara Pengawal (Watch Tower), setelah kematiannya sebagai yang telah menjadi “pemimpin dari semua Tuan yang baik”.
Setelah Russel meninggal, krisis kepemimpinan mengitari direktur baru dari komunitas tersebut. Joseph Rutherford kemudian menghasilkan perpecahan gerakan secara luas. Sebanyak tiga per empat dari Siswa Alkitab yang diperkirakan berjumlah 50.000 yang telah bergabung pada tahun 1917 telah meninggalkan organisasi tersebut pada tahun 1931 dan menghasilkan formasi kelompok baru yang mempertahankan nama Siswa Alkitab (Bible Students) secara bervariasi. Mereka yang tetap mempertahankan persekutuan dengan Masyarakat Menara Pengawal (Watch Tower Society) kemudian mengadopsi nama dengan Saksi Yehuwa (Jehovah's witnesses) pada tahun 1931. Sementara itu beberapa dari antara mereka yang bertalian dengan komunitas tersebut membentuk kelompok mereka sendiri termasuk Pastoral Bible Institute (Institut Penggembalaan Alkitab) pada tahun 1918, the Layman's Home Missionary Movement(Gerakan Pelayanan Rumah dari Golongan Awam) pada tahun 1919 serta Dawn Bible Students Association (Asosiasi Siswa Alkitab Permulaan) pada 1929[3].
Namun kehidupan pribadi Russel banyak berhadapan dengan sejumlah persoalan yang bertentangan dengan ajarannya sendiri. Istri Russel pernah menuntut cerai karena Russel memiliki hubungan dengan seorang wanita bernama Rose Ball. Istrinya tidak diperkenankan bercerai atas dasar perzinahan, tetapi boleh atas dasar “keangkuhan” dan “tindakan sewenang-wenang” dari pihak sang suami, yang menjadikan hidup sang istri tak tertahankan”[4]. Beberapa masalah lainnya adalah penangkapan Russel karena dia memindahkan hak milik harta bendanya kepada perseroan-perseroan dan lembaga-lembaga yang dikuasainya secara mutlak. Hal itu dilakukan untuk menghindarkan diri dari membayar biaya penyelesaian cerai dengan istrinya. Tidak hanya itu, salah satu surat kabar di New York pernah menuduh bahwa Russel menjual “gandum ajaib” seharga empat kali lipat dari harga pasaran. Ketika dia diperkarakan ke pengadilan dia mengakui bahwa dakwaan itu mengandung unsur-unsur kebenaran[5]
Joseph Franklin Rutherford
Lahir Tgl 8 November 1869 dan wafat pada Tgl 8 januari 1942 dan dikenal sebagai “Hakim” Rutherford yang merupakan direktur ketiga dari Watch Tower Bible and Tract Society dan memainkan peranan penting dalam perkembangan organisasi dan doktrin dari Saksi Yehuwa yang muncul dari gerakan Siswa Alkitab yang didirikan oleh Charles Taze Russell.
Rutherford memulai karir dalam bidang hukum, bekerja sebagai penulis cepat di pengadilan, pengacara (trial lawyer) dan jaksa penuntut. Dia mulai menaruh minat dalam doktrin dari direktur Watch Tower Society bernama Charles Taze Russell yang menuntunnya bergabung dengan gerakan Siswa Alkitab dan dibaptis pada tahun 1906. Dia ditetapkan sebagai penasihat hukum (legas counsel) bagi Watch Tower Society pada tahun 1907 dalam perjalanannya kemudian membawa dia sebagai direktur terpilih pada tahun 1917. Awal kepemimpinannya ditandai oleh perselisihan diantara dewan direktur Watch Tower Society, dalam mana empat dari tujuh anggota dewan direktur mengecam sikap otoriter Rutherforf dan meminta dia mengurangi kekuasaanya. Hasil dari krisis kepemimpinan tersebut memisahkan komunitas Siswa Alkitab tersebut dan menyumbangkan hilangnya sepertujuh pengikut sejak 1919 sebanyak 75% pada tahun 1931. Rutherford dan enam eksekutif lainnya dari Watch Tower pernah dipenjara pada tahun 1918 setelah adanya tuntutan terhadap penerbitan The Finished Mystery yaitu sebuah buku yang dianggap “membangkang” (seditious) karena komentar-komentar anti perangnya.
Rutherford memperkenalkan banyak perubahan di bidang organisasi dan doktrin yang menyumbangkan bentuk kepercayaan dari Saksi Yehuwa. Dia mengadakan struktur administrasi terpusat dalam gerakan Siswa Alkitab di seluruh dunia yang kemudian dia namakan sebuah Teokrasi yang menuntut semua pengikut untuk mengedarkn literatur melalui kotbah pintu ke pintu dan menyediakan laporan berkala dari aktifitas mereka. Dia juga mendirikan program pelatihan untuk berbicara di depan umum sebagai bagian dari pertemuan ibadah mingguan. Dia menetapkan bahwa tahun 1914 sebagai saat kembalinya Mesias secara tidak nampak dan menyatakan bahwa kematian Mesias bukan di kayu salib melainkan di atas pohon. Kemudian memformulasi konsep Saksi Yehuwa mengenai Harmagedon sebagai peperangan Tuhan terhadap orang fasik dan memperkuat kepercayaan bahwa pemerintahan Kerajaan Seribu Tahun dari Mesias telah dekat. Dia memerintahkan kepada para pengikutnya agar tidak memelihara perayaan tradisional seperti Christmass (Natal) dan perayaan Ulang Tahun Kelahiran. Melarang menghormat kepada bendera atau menyanyikan lagu kebangsaan. Dia memperkenalkan nama “Saksi Yehuwa” pada tahun 1931 dan istilah “Balai Kerajaan” sebagai rumah peribadahan pada tahun 1935. Dia telah menulis sebanyak dua puluh satu buku dan dihargai oleh Watch Tower pada tahun 1942 dengan penyebaran hampir 400 juta buku dan buklet. Meskipun terjadi pengurangan signifikan selama tahun 1920-an, secara keseluruhan anggota berkembang lebih dari enam kali lipat pada akhir dua puluh lima tahun Rutherford menjabat sebagai direktur[6].
Pokok Ajaran Saksi Yehuwa
Saya akan batasi pokok pembahasan ajaran Saksi Yehuwa dalam hal “Nama Tuhan”, “Kristologi” (dokrin tentang Mesias), ”Soteriologi” (doktrin tentang Keselamatan) ”Eskatologi” (doktrin tentang Akhir Zaman), “Pneumatologi” (doktrin Roh Kudus) dan beberapa aspek ajaran lainnya. Berikut pokok ajaran Saksi Yehuwa:
1. Ketuhanan
Saksi Yehuwa menolak istilah Tritunggal dan menolak essensi kesetaraan Bapa, Anak, Roh Kudus sebagai personifikasi YHWH, Firman dan Roh-Nya.
“Jadi, ke-39 buku dari Kitab-Kitab Ibrani ataupun kanon dari ke-27 buku yang terilham dari Kitab-Kitab Yunani Kristen tidak ada memuat ajaran yang jelas mengenai Tritunggal...Jadi bukti dari Alkitab dan dari sejarah membuat jelas bahwa Tritunggal tidak dikenal sepanjang zaman Alkitab dan selama beberapa abad setelahnya...Jadi dibutuhkan waktu berabad-abad sejak zaman Kristus bagi Tritunggal untuk dapat diterima secara luas dalam susunan Kristen. Dan dalam semua hal tersebut, apa yang membimbing keputusan-keputusannya? Apakah Firman (Tuhan) atau apakah pertimbangan para pendeta dan politik? Dalam Origin and Evolution of Religion, E.W. Hopkins menjawab: Definisi ortodoks yang terakhir dari tritunggal sebagian besar adalah masalah politik gereja”[7]
2. Nama Tuhan
Saksi Yehuwa memperjuangkan eksistensi nama Tuhan bernama Yehuwa yang termuat dalam 7000 tempat di Kitab Suci TaNaKh atau lazim disebut Perjanjian Lama oleh Kekristenan.
“Demikian pula dengan nama (Tuhan). Tidak diketahui dengan tepat bagaimana kata itu diucapkan, meskipun beberapa sarjana berpikir bahwa ‘Yahweh’ itu benar. Namun bentuk ‘Jehovah’ (Yehuwa) telah dipakai berabad-abad dan paling luas dikenal. Akan tetapi apakah kita seharusnya menggunakan nama (Tuhan) meskipun kita mungkin tidak mengucapkannya dengan tepat sebagaimana ucapan-ucapan semua? Kita menggunakan nama-nama orang lain dalam Alkitab meskipun tidak diucapkan dengan cara yang sama seperti dalam bahasa Ibrani asli. Misal, nama Yesus diucapkan ‘Yeshua’ dalam bahasa Ibrani. Demikian pula sepatutnya orang menggunakan nama (Tuhan) yang dinyatakan dalam Alkitab, tidak soal apakah kita mengucapkan ‘Yahweh’, ‘Yehuwa’ atau dengan cara lain yang umum dalam bahasa kita”[8]
“(Tuhan) memberi diri-Nya sebuah nama yang penuh makna. Nama-Nya, Yehuwa, menunjukkan bahwa (Tuhan) dapat memenuhi janji apapun yang Ia buat dan dapat melaksanakan apapun yang telah Ia tetapkan. Nama (Tuhan) itu unik, lain daripada yang lain. Hanya Dialah yang memiliki nama itu. Yehuwa unik dalam banyak hal”[9]
3. Kristologi
Sekalipun Yesus Sang Mesias mendapat tempat terhormat dalam pengajaran Saksi Yehuwa dan menjalankan fungsi penebusan yang menyediakan kehidupan kekal, namun kedudukan Yesus hanyalah mahluk ciptaan pertama yang keberadaannya sudah terlebih dahulu ada sebelum langit dan bumi ada dan setara dengan malaikat ciptaan Yehuwa. Dalam derajat tertentu, Yesus disetarakan dengan Hikmat dalam Kitab Amsal.
“Jadi sebelum dilahirkan di bumi sebagai manusia, Yesus sudah ada di surga sebagai pribadi roh yang penuh kuasa. Ia mempunyai tubuh yang tidak dapat dilihat manusia seperti halnya (Tuhan)...Sebelum datang ke bumi, Yesus disebut Firman dari (Tuhan). Gelar ini memperlihatkan bahwa di Surga ia melayani sebagai pribadi yang berbicara mewakili Tuhan. Ia juga disebut ‘Anak yang sulung’ dari (Tuhan) maupun Anak-Nya “yang tunggal” (Yoh 1:14; 3:16, Ibr 1:6). Ini berarti bahwa ia diciptakan sebelum dunia semua putra rohani lainnya dari Tuhan dan bahwa ia adalah satu-satunya yang langsung diciptakan oleh Tuhan. Alkitab menjelaskan bahwa Putra ‘yang sulung’ ini ikut bersama Yehuwa dalam menciptakan perkara-perkara lain (Kol 1:15-16)”[10]
“Alkitab mengajarkan bahwa Yesus hidup di surga sebelum ia datang k’e bumi. Mikha menubuatkan bahwa Mesias akan lahir di Betlehem dan bahwa ia sudah ada ‘sejak purbakala’ (Mik 5:2) Yesus sendiri beberapa kali mengatakan bahwa sebelum lahir sebagai manusia, ia hidup di surga (Yoh 3:13; 6:38,62; 17:4-5). Sebagai mahluk roh di surga, Yesus mempunyai hubungan istimewa dengan Yehuwa. Yesua adalah Putra yang paling Yehuwa kasihi-dan ada alasan yang kuat untuk itu. Ia disebut ‘yang sulung dari antara semua ciptaan’, sebab ia adalah ciptaan (Tuhan) yang pertama (Kol 1:15). Ada lagi yang membuat Yesus menjadi Putra yang istimewa. Ia adalah ‘Putra satu-satunya yang diperanakkan’ (Yoh 3:16). Itu berarti Yesus sajalah yang diciptakan oleh (Tuhan) sendiri. Selain itu, Yesuslah satu-satunya yang (Tuhan) gunakan ketika ia menciptakan semua hal lain (Kol 1:16). Selanjutnya, Yesus disebut ‘Firman’ (Yoh 1:14). Sebutan itu menunjukkan bahwa ia berbicara mewakili (Tuhan), tentunya untuk menyampaikan berbagai pesan dan instruksi kepada putra-putra lainnya, baik mahluk roh maupun manusia”[11]
“Perhatikan betapa erat hubungan antara acuan-acuan kepada asal usul Yesus dengan pernyataan-pernyataan yang diungkapkan oleh ‘hikmat’ kiasan dalam buku Amsal di Alkitab: TUHAN (Yahweh, New Jerusalem Bible) telah menciptakan aku sebagai permulaan pekerjaan-Nya, sebagai perbuatan-Nya yang pertama dahulu kala. Sebelum gunung-gunung tertanam dan lebih dahulu daripada bukit-bukit, aku telah lahir; sebelum ia membuat bumi dengan padang-padangnya atau debu dataran yang pertama’ (Ams 8:12,22,25,26). Meskipun istilah ‘hikmat’ digunakan untuk mempersonifikasi pribadi yang (Tuhan) ciptakan, kebanyakan sarjana setuju bahwa ini sebenarnya adalah kata kiasan untuk Yesus sebagai mahluk roh sebelum hidup sebagai manusia”[12]
4. Soteriologi
Saksi Yehuwa mengenal konsep penebusan yang dikerjakan oleh Yesus Sang Mesias untuk menggenapi gambaran penebusan dalam Perjanjian Lama yang diwakili oleh hewan korban. Namun demikian Sang Penebus tersebut bukan penebus yang Ilahi melainkan manusiawi belaka.
“Bahkan sekarang korban tebusan Yesus dapat memberi manfaat bagi kita. Cara bagaimana? Dengan menjalankan iman di dalamnya kita dapat menikmati kedudukan yang bersih di hadapan (Tuhan) dan berada di bawah pemeliharaan-Nya yang pengasih dan lembut (Why 7:9-10, 13-15). Banyak di antara kita mungkin telah melakukan dosa-dosa luar biasa sebelum belajar tentang (Tuhan). Bahkan sekarang kita membuat kesalahan-kesalahan, kadang-kadang sangat serius. Akan tetapi, kita dapat dengan leluasa meminta pengampunan dari (Tuhan) atas dasar tebusan, dengan keyakinan bahwa Ia akan mendengarkan kita (1 Yoh 2:1-2; 1 Kor 6:9-11). Demikian pula, di masa-masa mendatang, tebusan kan membuka jalan bagi kita untuk menerima karunia (Tuhan) yaitu hidup kekal dalam sistem baru-Nya yang adil-benar (2 Ptr 3:13). Pada masa itu, semua orang yang menjalankan iman dalam tebusan akan dibebaskan sepenuhnya dari perbuadakan dosa dan kematian. Mereka dapat mengharapkan kehidupan kekal dalam kesempurnaan”[13]
“Yehuwa bertindak untuk menyelamatkan umat manusia melalui tebusan...Bagaimana Yehuwa menyediakan tebusan? Ia mengutus seorang putra rohani-Nya yang sempurna ke bumi. Tetapi Yehuwa tidak mengutus sembarang malaikat. Ia mengutus pribadi yang paling Ia kasihi, yaitu Putra Tunggal-Nya (1 Yoh 4:9-10)”[14]
5. Pneumatologi
Saksi Yehuwa meyakini Roh Kudus bukanlah Roh Tuhan melainkan hanya sekedar kekuatan seperti listrik dengan fungsi dan tujuan yang tertentu.
“Roh Kudus yang digunakan dalam Alkitab menyatakan bahwa ini adalah suatu kekuatan atau tenaga yang dikendalikan yang digunakan oleh (Tuhan) Yehuwa untuk melaksanakan berbagai maksud dan tujuan-Nya. Sampai taraf tertentu, ini dapat disamakan dengan listrik, tenaga yang dapat digunakan untuk melakukan beragam fungsi...Kata Yunani untuk ‘Roh’ ialah berjenis netral dan walaupun kita menggunakan kata gnti nama pribadi dalam bahasa Inggris (He, His, Him), kebanyakan MSS (manuskrip) Yunani menggunakan kata (bahasa Inggris) ‘It’. Jadi bila Alkitab menggunakan kata ganti nama pribadi berjenis laki-laki sehubungan dengan ‘parakletos’ dalam Yohanes 16:7, 8 hal ini sesuai dengan peraturan tata bahasa, bukan menyatakan suatu doktrin”[15]
- 6. Eskatologi
Saksi Yehuwa gemar melakukan kajian eskatologis dan tergoda untuk selalu melakukan ramalan dan prediksi mengenai kedatangan Yesus kedua kali dan akhir dunia, meskipun selalu terbukti keliru.
“Kita telah belajar bahwa “zaman bangsa-bangsa” mulai pada tahun 607 SM. Jadi dengan menghitung 2.520 tahun sejak tahun itu, kita sampai pada tahun 1914. Pada tahun itulah “zaman” yang ditetapkan ini berakhir. Jutaan orang yang masih hidup mengingat peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tahun 1914. Pada tahun itulah “zaman” yang ditetapkan ini berakhir. Jutaan orang yang masih hidup mengingat peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tahun 1914. Pada tahun itu, Perang Dunia I memulai suatu masa kesusahan luar biasa yang telah berlangsung sampai zaman kita. Ini berarti bahwa Kristus Yesus mulai memerintah sebagai raja dari pemerintahan surgawi (Tuhan) pada tahun 1914”[16]
7. Kematian
Saksi Yehuwa mempercayai bahwa kematian setara dengan tidur panjang tanpa aktivitas dan tanpa sebuah kesadaran di dalamnnya.
“Sekarang coba pikirkan hal ini: Bagaimanakah keadaan Lazarus ketika ia mati selama empat hari? (Yoh 11:11-44, red) Apakah ia ada di surga? Ia seorang yang baik. Namun Lazarus tidak mengatakan apapun bahwa ia ada di surga, yang pasti akan dikatakannya jika ia memang pernah ke sana. Tidak, Lazarus benar-benar mati, seperti yang dikatakan Yesus. Maka, mengapa Yesus mula-mula mengatakan kepada murid-muridnya bahwa Lazarus hanya tidur? Yesus tahu bahwa Lazarus yang mati itu tidak sadar, seperti dikatakan Alkitab: “Orang yang mati itu tidak tahu apa-apa”. “Orang yang mati itu...tidak sadar akan apapun” (Pengkh 9:5, terjemahan New World Translation). Akan tetapi, orang yang hidup dapat dibangunkan dari tidur nyenyak. Jadi Yesus ingin menunjukkan bahwa, melalui kuasa (Tuhan) yang diberikan kepadanya, Lazarus, sahabatnya dapat dibangunkan dari kematian. Apabila seseorang tidur nyenyak, ia tidak ingat apa-apa. Demikian pula halnya orang mati. Mereka tidak mempunyai perasaan sama sekali. Mereka tidak ada lagi”[17]
“Yesus Kristus menggambarkan keadaan orang mati. Ketika Lazarus, teman baiknya meninggal, Yesus memberi tahu murid-muridnya, ‘Lazarus sahabat kita telah pergi beristirahat’. Murid-murid mengira bahwa Yesus memaksudkan Lazarus sedang beristirahat atau tidur agar ia dapat sembuh. Tetapi mereka keliru. Yesus menjelaskan, ‘Lazarus telah mati’ (Yoh 11:11-14). Perhatikan bahwa Yesus menyamakan kematian dengan istirahat dan tidur. Lazarus tidak berada di surga ataupun di neraka yang menyala-nyala. Ia tidak sedang bersama malaikat atau leluhurnya. Lazarus tidak dilahirkan kembali sebagai manusia lain. Ia sedang beristirahat dalam kematian, seolah-olah tidur nyenyak tanpa bermimpi”[1
8. Kebangkitan dari Kematian
Saksi Yehuwa mengakui adanya kebangkitan orang mati namun bukan kebangkitan di alam roh melainkan kebangkitan di dunia ini layaknya orang bangun dari tidur panjangnya. Saksi Yehuwa membagi kebangkitan menjadi dua bagian, kebangkitan pertama dimana orang yang turut ambil bagian dalam kebangkitan pertama ini hidup di Surga sementara kebangkitan kedua bagi mereka yang ditentukan untuk hidup di dunia yang sudah diperbarui ini.
“Jadi setelah Kristus dibangkitkan, ke-144.000 (Why 14:1, red) inilah yang akan dibangkitkan berikutnya. Mereka mendapat bagian dalam ‘kebangkitan pertama’ atau ‘kebangkitan yang lebih awal’ (Fil 3:11, terjemahan New World Translation). Kapan ini terjadi? ‘Pada waktu kedatangan-Nya’ (kehadiran-Nya, New World Translation), kata Alkitab. Seperti yang telah kita pelajari dalam pasal-pasal sebelumnya, Kristus mulai hadir pada tahun 1914. Jadi ‘hari’ untuk ‘kebangkitan pertama’ dari umat Kristen yang setia ke surga telah tiba. Pasti rasul-rasul dan umat Kristen mula-mula yang lainnya sudah dibangkitkan kepada kehidupan surgawi (2 Tim 4:8). Akan tetapi, selama kehadiran Kristus yang tidak kelihatan ini, ada umat Kristen yang masih hidup yang mempunyai harapan yang sama untuk memerintah di surga bersama Kristus. Mereka adalah sisanya, sisa dari 144.000. kapan mereka akan dibangkitkan? Mereka tidak perlu tidur dalam kematian, tetapi mereka akan segera pada waktu mereka mati. Alkitab menjelaskan: Kita tidak akan akan mati semaunya, tetapi kita semaunya akan diubah, dalam sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir. Sebab nafiri akan berbunyi dan orang-orang mati akan dibangkitkan” (1 Kor 15:51-52; 1 Tes 4:15-17)[19]
“Siapakah yang akan dibangkitkan? Yesus mengatakan bahwa ‘semua orang dalam makam peringatan akan mendengar suara Yesus lalu keluar’ (Yoh 5:28-29). Demikian pula Penyingkapan (Why) 20:13 mengatakan, ‘Laut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya dan kematian dan hades menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya’. Semua kuburan akan dikosongkan. Miliaran orang yang beristirahat di sana akan hidup kembali. Rasul paulus mengatakan, ‘Akan ada kebangkitan untuk orang-orang yang adil-benar maupun yang tidak adil-benar’”(Kis 24:15)...Alkitab juga menyebutkan kebangkitan lain, yaitu untuk hidup sebagai mahluk roh di surga. Alkitab hanya mencatat satu contoh dari kebangkitan ini yaitu kebangkitan Yesus Kristus...Yesus tahu bahwa ia tidak lama lagi akan kembali ke surga, maka ia memberi tahu para pengikutnya yang setia bahwa ia akan ‘menyiapkan tempat’ bagi mereka (Yoh 14:2)...Ke-144.000 orang Kristen itu, termasuk rasul-rasul Yesus yang setia, dibangkitkan untuk hidup di surga. Kapan mereka dibangkitkan? Rasul Paulus menulis bahwa hal itu akan terjadi pada masa kehadiran Kristus (1 Kor 15:23)”[20]
9. Mengenai Neraka & Surga
Saksi Yehuwa menolak keberadaan neraka karena Yehuwa yang pada dasarnya Kasih tidak mungkin menyediakan tempat sejahat itu. Saksi Yehuwa melakukan penafsiran simbolis terhadap kata Ibrani “Sheol” atau kata Yunani “Hades” dan kata Ibrani “Gehinom” atau kata Yunani “Gehenna” sebagai tempat kuburan dan tempat pembakaran di Yerusalem timur.
“Jutaan orang diajar oleh agama mereka bahwa ‘neraka’ adalah suatu tempat siksaan kekal dan bahwa orang-orang jahat pergi ke sana...Hal ini menimbulkan pertanyaan: Apakah (Tuhan) Yang Maha Kuasa menciptakan tempat siksaan demikian?...Dalam menyebutkan tempat yang dituju oleh umat manusia pada waktu ia mati, Alkitab memakai kata ‘Sheol’ dalam Kitab-Kitab Ibrani dan ‘Hades’ dalam Kitab-Kitab Yunani...Dalam Alkitab, disemua ayat dimana ‘sheol’ muncul, tempat itu tidak pernah dihubungkan dengan kehidupan, kegiatan atau siksaan. Sebaliknya, sering dihubungkan dengan kematian dan ketidakaktifan...Jadi jawabannya menjadi sangat jelas. Misalnya, pikirkan tentang Pengkhotbah 9:10 yang berbunyi: ‘Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati (Sheol, New World Translation), ke mana engkau akan pergi’. Sheol dan Hades tidak memaksudkan suatu tempat siksaan melainkan kuburan umum umat manusia (Mzm 139:8). Orang-orang baik maupun jahat pergi ke Sheol atau Hades”[21]
“Maka apa artinya Gehenna? Dalam Alkitab Ibrani, Gehenna tak lain dari ‘Lembah Ben Hinom’. Ingat, Hinom ialah nama sebuah lembah di luar tembok-tembok Yerusalem. Di tempat itulah orang-orang Israel mengorbankan anak-anak mereka dalam api. Pada waktunya, Raja Yosia yang baik membuat tempat ini menjadi tidak cocok untuk digunakan bagi praktik yang begitu mengerikan (2 Raj 23:10). Tempat ini diubah menjadi tempat sampah yang sangat besar...Kalau begitu apa yang dimaksudkan dengan ‘lautan api’ yang disebut di Alkitab dalam buku Wahyu? Kata itu mempunyai arti yang sama dengan Gehenna. Kata itu tidak berarti siksaan dalam keadaan sadar melainkan kematian atau kebinasaan kekal. Perhatikan bagaimana Alkitab sendiri mengatakan hal itu dalam Wahyu 20:14: “Lalu maut dan kerajaan maut (Hades, New World Translation) itu dilemparkanlah ke dalam lautan api. Itulah kematian yang kedua: lautan api”. Ya, lautan api berarti ‘kematian kedua’. Dari dalam kematian ini tidak ada kebangkitan. Tak dapat disangkal bahwa ‘lautan’ ini adalah lambang, karena maut dan kerajaan maut tidak dapat dibakar secara aksara. Akan tetapi hal-hal itu dapat dan akan dilenyapkan atau dimusnahkan”[22]
10. Hermeneutik Saksi Yehuwa
Hermeneutik adalah “suatu bagian teologi yang bersifat ilmiah dan seni yang memperhatikan hukum tertentu bahkan melibatkan diri penafsir sepenuhnya dengan tujuan mencari maksud yang ingin disampaikan oleh penulis Alkitab”[23]. Namun Saksi Yehuwa tidak menggunakan kaidah hermeneutik yang lazimnya dipergunakan di sekolah-sekolah teologia. Mereka memiliki kaidah penafsiran sendiri yang lebih menekankan aspek simbolis (lambang). Untuk menafsirkan lambang-lambang yang sulit mereka biasanya memiliki kelompok penafsir yang dijuluki “hamba yang setia dan bijaksana” (faithfull and discreet slave class)[24]
11. Metode Pengajaran Saksi Yehuwa
Apa yang disebut “metode” tidak lebih dari sebuah “pelajaran buku” atau “indoktrinasi” bahkan “cuci otak”[25]. Mereka biasanya membacakan keras-keras materi dalam buku terbitan Saksi Yehuwa dan diadakan pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya sudah tersedia dalam buku panduan tersebut. Kevin R. Quick seorang mantan Saksi Yehuwa yang sudah berpaling pada Yesus Sang Mesias memberikan kesaksiannya sbb: “Saya sering heran mengapa kami memakai metode semacam itu. ‘Kalau apa yang kami pelajari adalah suatu kebenaran’, pikir saya, ‘mengapa harus cuci otak seperti ini? Mengapa tidak berdiskusi saja secara terbuka? Mengapa mengulang-ulang penyajian yang sama, pengajaran yang sama tentang tema yang sama pula?’ Saya lalu berkesimpulan bahwa karena sebagian besar Saksi Yehuwa tidak tinggi pendidikannya, rupanya itulah satu-satunya cara belajar yang efektif bagi mereka”[26]
12. Terjemahan Kitab Suci Saksi Yehuwa
Kelompok Saksi Yehuwa atau Wacth Tower menjunjung tinggi kitab suci terjemahan mereka sendiri dan merendahkan terjemahan lainnya. Pada mulanya mereka menerjemahkan kitab suci dan menerbitkannya dengan nama The New Translation of the Christian Greek Scriptures diterbitkan oleh New World Translation Commiitteepada tahun 1950. Kemudian disusul dengan The New World Translation of the Hebrew Aramaic Scriptures dalam lima jilid. Jilid pertama selesai tahun 1953 dan jilid terakhir selesai pada tahun 1960[27]. Sekarang mereka menyatukan semua jilid dan dikenal dengan nama The New World Translation.
Tujuh Langkah Indoktrinasi Saksi Yehuwa
Saksi Yehuwa menggunakan tujuh langkah indoktrinasi atau rentetan pengajaran dan latihan yang bertujuan menjangkau dan meyakinkan penganut-penganut baru. Cara-cara mereka hendaknya dipelajari oleh orang Kristen agar memahami sepenuhnya metode ‘penginjilan’ yang digunakan oleh aliran yang menyesatkan itu[28]. Adapun tujuh langkah tersebut adalah sbb:
Menjual Bahan Cetakan
Ada banyak buku-buku kecil dan menarik serta full color yang mempromosikan ajaran Saksi Yehuwa. Jika tahun 1970-an menggunakan buku utama Saudara Dapat Hidup Kekal Dalam Firdaus di Bumi sekarang berganti dengan judul Apa Yang Sebenarnya Alkitab Ajarakan? Dan masih ada majalah Sedarlah dan brosur-brosur lainnya.
Kunjungan kepada Pembeli
Setelah ada pembeli literatur mereka, biasanya Saksi Yehuwa akan menindaklanjuti dengan melakukan perkunjungan dan tanya jawab.
Pelajaran di Rumah.
Jika pembeli berminat dan merespon ajaran Saksi Yehuwa, maka akan diadakan pertemuan berkala di rumah tersebut
Pelajaran Sedaerah
Kelompok belajar ini merupakan satu kumpulan dari semua calon anggota di daerah yang berdekatan, yaitu perhimpunan orang-orang yang sudah lebih dahulu belajar di rumah masing-masing.
Undangan ke Balai Kerajaan
Pertemuan dalam Balai Kerajaan berisikan pelajaran yang tidak ada batasnya dan belum pernah ada satu orangpun yang menamatkannya. Ada pelajaran berpidato dan pendalaman Kitab Suci yang bersifat indoktrinatif dengan bekal buku-buku panduan dari Watch Tower dan tanpa diskusi kritis.
Calon itu Diutus Sebagai Penjual
Setelah dirasa cukup pengetahuannya mereka akan diutus keluar untuk menjual literatur-literatur dengan didampingi senior dan membuat laporan atas hasil pekerjaannya tersebut.
Calon Dibaptiskan Dalam Teokrasi
Setelah mereka matang dan layak maka mereka akan dibaptiskan dan masuk dalam Teokrasi. Mereka menganggap bahwa teokrasi atau Kerajaan Tuhan itu tiada lain adalah organisasi mereka sendiri.
Tanggapan Atas Ajaran Saksi Yehuwa
Patut kita akui bahwa dalam pengajaran yang disampaikan oleh Saksi Yehuwa ada unsur-unsur kebenaran yang bersumber dalam pengajaran Kitab Suci TaNaKh (Torah, Neviim, Ketuvim) atau Perjanjian Lama dan Kitab Perjanjian Baru seperti kebaikan moral, menjauhi kejahatan dan perbuatan terkutuk. Merekapun mempercayai keberadaan Tuhan, keberadaan Yesus Sang Mesias. Namun jika dikaji secara seksama dan mendalam ada perbedaan yang tajam antara keyakinan Saksi Yehuwa dengan apa yang diimani oleh gereja sepanjang abad mengenai pokok-pokok keimanan khususnya terhadap Yesus Sang Mesias.
Tanggapan Mengenai Istilah Tritunggal
Kita sependapat dengan Saksi Yehuwa bahwa istilah “Tritunggal” tidak terdapat dalam Kitab Suci baik TaNaKh (Torah, Neviim, Ketuvim) maupun Kitab Perjanjian Baru. Namun sayang Saksi Yehuwa menolak essensi kesetaraan, kesehakikatan YHWH, Firman dan Roh (Kej 1:1-3) yang dipersonifikasikan dalam sebutan Sang Bapa, Sang Putra dan Sang Roh Kudus (Mat 28:19-20).
Darimanakah istilah Tritunggal? Perlukah kita menggunakan istilah Tritunggal? Kekristenan mengungkapkan misteri relasi ontologis (hakikat) antara Bapa, Putra dan Roh Kudus, dengan istilah Tritunggal atau trinitas. Terminologi ini tidak tertulis dalam Kitab Suci. Istilah ini secara historis merupakan perspektif orang beriman Abad 2 Ms.
Abad 2 Ms merupakan perpindahan titik berat pola berteologia, dari teologia Palestina yang kontemplatif, menjadi Teologia Hellenis yang rasionalistik dan metafisik[29] Akibatnya, dibutuhkan suatu penjelasan yang rasional kepada kaum pagan Yunani, mengenai realitas Tuhan. Bernhard Lohse memberikan komentar, “Karena itu, sedikitpun tidak mengherankan bahwa gereja terkadang meraba-raba dalam upayanya memformulasikan imannya secara intelrktual dan konseptual kepada (Tuhan) Bapa, (Yesus Sang Mesias) dan Roh Kudus”[30]. Sejumlah teolog dan Bapa Gereja (Church Fathers) yang telah lebih dahulu menggumuli persoalan relasi ontologis antara Bapa, Putra dan Roh Kudus, adalah Yustinus martyr, Theophilus dari Anthiokhia, Adamatinus , Origenes, Arius, Athanisius, Agustinus serta Tertulianus.
Dari sekian teolog yang merumuskan formula relasi intologis antara Bapa, Putra dan Roh Kudus, adalah tertulianus. Beliau merumuskan dalam bentuk ungkapan Yunani, “Mono Ousia Tress Hypostasis” atau dalam ungkapan Latin, “Una Substantiae Tress Persona”, yang jika diterjemahkan adalah, “Satu Keberadaan Tiga pribadi”. DR. Harun Hadiwyono mensinyalir ada pengaruh Filsafat Platonik tentang konsep “Divine nature”(Tabiat Ketuhanan) dalam perumusan konsep Trinitas[31][32]”. “Ousia” atau“Substantiae” adalah: “apa yang membedakan satu macam atau satu rumpun dengan macam rumpun yang lain, serta yang memberi ciri khas kepada macam atau rumpun itu”. Contoh : ‘rumpun mangga berbeda dengan rumpun jambu. Rumpun manusia berbeda dengan rumpun binatang’. Ousia (Tuhan) adalah apa yang membedakan (Tuhan) daripada manusia”[33]
Hampir semua teolog mengakui bahwa istilah “Trinitas/Tritunggal”, tidak terdapat secara literal dalam Kitab Suci. Namun essensi yang mengarah pada pengertian tersebut memang terpampang dalam banyak ayat. DR. Andar Tobing, mengakui kenyataan tersebut dan mengatakan:
“kita terpaksa memakai istilah Trinitas itu untuk menolak adjaran-adjaran dan pendapat-pendapat yang salah dan bertentangan dengan isi Alkitab. Biarpun istilah itu tidak sempurna…”[34]
Berdasarkan beberapa kajian diatas, maka penulis mengusulkan suatu formula teologis untuk menggambarkan relasi ontologis Bapa, Putra dan Roh Kudus, sbb : “Tuhan yang esa dengan tiga maha karya yaitu mencipta dipanggil sebagai Bapa, menyelamatkan dipanggil sebagai Putra, menghibur dalam diri orang percaya disebut Roh Kudus”.
Mengapa digunakan istilah “Keesaan Bapa, Putra, dan Roh Kudus?” Pertama, istilah Keesaan adalah istilah yang firmaniah dan secara literal tertulis dalam TaNaKh dan Kitab Perjanjian Baru. Ortodoksi Yudaisme, sebagai akar Kekristenan mendasarkan pada “Shema (Shema Yisrael, YHWH Eloheinu YHWH Ekhad” yang artinya, “Dengarlah Israel, YHWH itu Tuhan kita, YHWH itu Esa”,Ul 6:4). Rabbi Hayim Ha Levy Donin, memberikan keterangan: “The Shema is declaration of faith, a pledge of allegiance to One God, an affirmation of Judaism. It is the first prayer that children are taught to say”(Shema adalah deklarasi iman, janji setia kepada satu Tuhan, sebuah penegasan iman Yudaisme. Ini adalah doa pertama dari seorang anak yang diajarkan untuk diucapkan) [35]
Dalam Kitab Perjanjian Baru, Yesus kembali mengutip “Shema” (Mrk 12:29). Berulang kali, dalam suratnya, Rasul Paul mengungkapkan sebutan Bapa, Putra, Roh Kudus bersamaan dengan kata Esa (1 Tim 1:17, 1 Tim 2:5-6, 1 Kor 8:5-6, Gal 3:20), demikian pula Rasul Yohanes menyebutkan mengenai keesaan (Yoh 5:45) serta rasul Yudas (Yud 1:25). Secara literal, istilah “Keesaan” adalah Firmaniah atau Skriptural. Kedua, makna Keesaan dalam sudut pandang Skriptural adalah bahwa orang beriman harus menyembah kepada satu-satunya Tuhan yang benar, yaitu Bapa, Putra dan Roh Kudus serta bukan kepada Tuhan yang lain. Hanya Dia lah fokus ibadah (Ul 6:13), fokus kasih (Ul 11:1), fokus doa (Mzm 143:1), fokus pujian (Mzm 66:2). Jadi, kata “Ekhad”, bukan bermakna aritmetis semata namun bermakna metafisik. Tuhan yang mengatasi ruang dan waktu dan yang satu-satunya berhak menerima penyembahan. Ketiga, baik Bapa, Putra dan Roh Kudus adalah sehakikat, setara dalam kekekalan. Bapa, Putra dan Roh Kudus, keluar dari hakikat Bapa (Yoh 8:42, Yoh 15:26).
Tuhan yang Esa, yang dalam zaman hidup nabi-nabi di Perjanjian Lama, dikenal dengan nama YHWH (Yahweh, Kel 3:15), maka dalam Perjanjian Baru telah menyatakan diri-Nya kepada manusia (Ibr 1:3), melalui Firman-Nya yang menjadi manusia (Yoh 1:1,14) serta mengambil rupa manusia (Fil 2:7) yang bernama, Yesus (Mat 1:21) serta mengajar manusia melaluii Roh-Nya yang berdiam dalam diri orang beriman (Yoh 14:16-17).
YHWH disebut sebagai Bapa Surgawi (Yes 64:8, Mat 6:9) dan Pencipta Langit serta Bumi (Yes 40:28, Mzm 121:1-2). Yahshua disebut sebagai Putera Tuhan (Mat 16:16). Roh Bapa atau Roh YHWH, disebut juga Roh Kudus atau Roh kebenaran (Yoh 14:26, Yoh 15:26).
Baik YHWH, Firman dan Roh bukanlah tiga melainkan satu. Karena Firman dan Roh berdiam bersama dalam kekekalan bersama YHWH (Yoh 1:1). Bukanlah tiga melainkan satu, karena Firman keluar dan datang dari hakikat Bapa (Yoh 8:42). Demikianpula Roh keluar dari Bapa (Yoh 15:26). Bukanlah tiga melainkan satu, karena Firman tidak diciptakan, melainkan menciptakan dan menyebabkan adanya ciptaan (Mzm 33:6, Yoh 1:3, Kol 1:16). Demikian pula Roh Kudus yang menyebabkan semua ciptaan menjadi hidup dan bernafas (Ayub 34:14).
Bukan pula tiga pribadi melainkan satu pribadi dengan tiga karya dan manifestasi kuasa. Mengapa satu pribadi? Bapa, Putra dan Roh Kudus (YHWH, Firman-Nya, Roh-Nya) adalah satu pribadi dalam kekekalan, karena yang satu tidak ada dan diadakan lebih dahulu oleh yang lain. Kata “satu” dalam ulasan ini bukan bermakna aritmetik melainkan ontologik, karena kita sedang membicarakan Tuhan yang mengatasi dan berada didalam segala sesuatu yang Dia ciptakan.
Sekalipun kita seharusnya meredefinisi penggunaan istilah Tritunggal karena memang tidak dituliskan dalam Kitab Suci dan dapat menimbulkan biasa pemahaman mengenai jumlah Tuhan namun kita tidak menolak essensi kesetaraan dan kesehakitan YHWH, Firman dan Roh-Nya yang dipersonifikasikan dengan sebutan Bapa, Anak dan Roh Kudus. Sementara Saksi Yehuwa menolak keduanya, baik istilah sekaligus essensinya.
Tanggapan Mengenai Nama Tuhan
Kita pun sepakat dengan Saksi Yehuwa bahwa Tuhan memiliki nama. Rujukan penting mengenai nama Tuhan terdapat dalam Keluaran 3:1-22 pada peristiwa perjumpaan Musa dengan kehadiran Tuhan dalam api di semak duri yang tidak membakar semak duri tersebut. Saat Musa hendak diutus untuk membebaskan bangsa Israel keluar dari Mesir, Musa bertanya mengenai nama Tuhan sbb: “Lalu Musa berkata kepada Tuhan: "Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Tuhan nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya? -- apakah yang harus kujawab kepada mereka?" (Kel 3:13). Lalu Tuhan menjawab demikian: “Firman Tuhan kepada Musa: "AKU ADALAH AKU." Lagi firman-Nya: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu."(Kel 3:14). Jawaban ini kerap disalahpahami sebagai bentuk penolakan Tuhan menyatakan nama dan arti yang terkandung dalam nama-Nya. Seolah-olah Tuhan hendak menyembunyikan misteri diri-Nya dengan pernyataan tersebut sebagaimana dikatakan Stefan Leks demikian, “Maka jelaslah ungkapan Alkitabiah ini menegaskan akan adanya Tuhan, tetapi sebenarnya tidak memberi jawaban siapakah nama Tuhan itu”[36]
Penyingkapan tabir hakikat dan nama Sang Pencipta tertulis dalam Keluaran 3:15, "Yahweh Elohe avotekem, Elohe Avraham we Elohe Yishaq we Elohe Yaaqov, shelakhmi aleikem, ze shemi le olam we ze zikri le dor dor" (Yahweh Tuhan nenek moyangmu Tuhan Abraham, Tuhan Ishak dan Tuhan Yakub Telah mengutus aku kepadamu Inilah nama-Ku untuk selamanya Dan inilah pengingat-Ku turun temurun). Perhatikan frasa Ibrani Keluaran 3:15 sbb:
יהוה אלהי אבתיכם אלהי אברהם אלהי יצחק ואלהי יעקב
שׁלחני אליכם זה־שׁמי לעלם וזה זכרי לדר דר׃
Frasa “zeh shemi leolam” (inilah nama-Ku Yang Kekal), menunjuk kepada nama Yahweh. Ada yang berpendapat, bahwa Yahweh adalah kata kerja imperfek orang ketiga tunggal. Ini pendapat yang keliru. Sekalipun akar kata Yahweh adalah hayah, sehingga Yahweh bermakna “Dia Ada”. Namun bentuk kata kerja orang ketiga tunggal dari hayah adalah yihyeh. Adapun Yahweh”adalah nama dari Tuhan Abraham, Ishak dan Yakub. Makna nama Yahweh sendiri adalah YANG SENANTIASA ADA, HADIR, BERBUAT, BERKARYA, BERTINDAK.
Keluaran 3:14 menyingkapkan “sifat dan keberadaan” Sang Pencipta, melalui bentuk kata kerja imperfek orang pertama tunggal, “Ehyeh”. Sementara Keluaran 3:15 menyingkapkan bahwa nama Tuhan Abraham, Ishak dan Yakub bernama Yahweh. Nama ini bukan hasil penelitian Musa atau penjelajahan Musa dalam dunia esoteris sehingga berhasil mendapatkan nama Sang Pencipta, melainkan penyingkapan nama Sang Pencipta adalah INISIATIF Sang Pencipta sendiri, untuk memperkenalkan jati diri-Nya pada Musa dan Yisrael. Berbeda dengan agama-agama yang menamakan berbagai gejala alam (angin, hujan, badai, panas, dll) menjadi nama tuhan mereka, maka Yudaisme dan Kekristenan, berangkat dari keyakinan bahwa Tuhan telah memperkenalkan nama pribadi-Nya, karena Dia berkehendak untuk dikenal oleh umat-Nya.
Pada Abad I Ms pelarangan pengucapan nama Yahweh di tempat umum menjadi suatu ketetapan dikalangan Yudaisme di Yerusalem. Setiap mereka mengucapkan nama Yahweh, mereka akan mengganti dengan bentuk euphemisme (penghalusan) al.Shamayim (langit), Adonai (tuan), ha Kadosh (yang kudus). Sebagaimana tercatat dalam literatur Yahudi pra Mesias, yaitu Misnah sbb: “…di tempat suci, seseorang mengucapkan Sang Nama sebagaimana tertulis, namun di luar tempat itu, harus dengan bentuk euphemisme”[37]. Setelah penghancuran Yerusalem pada tahun 70 Ms, mazhab Yahudi Farisi melarang penggunaan nama itu. Berdasarkan “halakha” (keputusan rabinik), mereka menyatakan bahwa nama itu “tersembunyi”[38] dan “harus dirahasiakan”[39]. Setidaknya semua orang Yahudi tahu bahwa Yahweh adalah nama Tuhan dan tidak dilupakan sama sekali. Dan literatur modern merekam peristiwa tersebut dan memberikan deskripsi sbb:
New World Encyclopedia: “In Judaism, pronunciation of the Tetragrammaton is taboo. Usually, Adonai ("the Lord") is used as a substitute in prayers or readings from the Torah. When used in everyday speaking the Tetragrammaton is often replaced by HaShem ("the Name"). According to rabbinic tradition, the name was pronounced by the high priest on Yom Kippur, the only day when the Holy of Holies of the Temple would be entered. With the destruction of the Second Temple in the year 70 C.E., this use also vanished, explaining the loss of the correct pronunciation.” (Dalam Yudaisme, pengucapan Tetragrammaton adalah terlarang. Biasanya kata Adonai dipergunakan sebagai pengganti dalam doa-doa atau pembacaan dari Kitab Torah. Ketika dipergunakan dalam percakapan harian maka Tetragrammaton terkadang diganti dengan Ha Shem [Sang Nama]. Menurut tradisi rabinik nama tersebut diucapkan oleh Imam Besar saat perayaan Yom Kipur hanya satu hari saat imam memasuki ruang Maha Suci).
Jewish Encyclopedia menuliskan: “About 300 B.C., therefore, the word "Yhwh" was not pronounced in its original form. For several reasons Jacob ("Im Namen Gottes," p. 167) assigns the "disuse of the word 'Yhwh' a



